DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT 2014


Go to content

ASSALAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH
SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA


calon presiden 2014, capres 2014,
kandidat presiden 2014
DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT RI 2014





UNTUK APAKAH WEBSITE INI DIBUAT DAN DIPUBLIKASIKAN?


Sebagai media opini, sebagai ekspresi keprihatinan terhadap situasi kondisi realistis kehidupan masyarakat yang sebagian besar merasa kehidupannya sangat susah dan menderita; khususnya secara keuangan dan kenyamanan hidup.

Sebagai tanda keperdulian dan kecintaan anak bangsa terhadap saudara-saudarinya sebangsa dan setanah air; dengan mengutarakan apa yang diketahuinya; agar juga diketahui oleh para Pemimpin, calon pemimpin, dan Decision Makers negara ini; sehingga karena kekuasaan dan sumberdaya mereka yang besar, dapat mewujudkan "impian" ini menjadi kenyataan.


APA YANG MELATARBELAKANGI PEMBUATAN "IMPIAN" ITU? APAKAH INI HANYA PROGRAM "IKUT-IKUTAN" ATAU UPAYA MENCARI POPULARITAS?


Motivasi Johanes Lim merancang program ini 100% adalah kecintaan dan kerinduan agar bisa melihat saudara saudari saya sebangsa dan setanah air makmur sejahtera, aman tenteram harmonis, dan digdaya.
Karena INDONESIA mempunyai SEJARAH KEBESARAN NUSANTARA yang hebat sejak jaman dahulu kala.
Karena kita punya segala potensi, sumberdaya, dan kapasitas yang memadai untuk menjadi bangsa yang besar hebat kuat!

Kalau belakangan ini kehidupan mayoritas rakyat kita banyak yang susah, sengsara, miskin; dan atau kedaulatan negara kita disepelekan oleh bangsa lain karena dianggap miskin dan lemah.....

  • ITU BUKANLAH FITRAH INDONESIA!
  • Itu juga bukan karakter bangsa kita!
  • Itu bukan keadaan yang "given" dan tidak bisa diubah!
  • Itu bukan karena kita lemah atau bodoh!
  • Itu juga bukan karena kita tidak tahu atau tidak mau hebat!


Melainkan karena kita terlena (atau dininabobokan) oleh perkara non-esensial; oleh urusan remeh-temeh non-bisnis, "tetek bengek" yang tidak menghasilkan kemakmuran rakyat; sehingga energi dan sumberdaya kita dikuras habis untuk melakukan hal-hal yang tidak penting.
Sehingga kita tidak sempat melakukan perkara BESAR, hal crucial, yakni: MENSEJAHTERAKAN RAKYAT!


JOHANES LIM MOTIVATOR BISNIS

Padahal kita semua paham bahwa, "Tanpa uang, kita nyaris mustahil bisa melakukan hal hebat bagus berguna!".
Karena kemiskinan mengakibatkan bayi lahir dan tumbuh kurang gizi; belum lagi ketidakmampuan membiayai pendidikan, sehingga kemampuan intelektual bantut.
Karena pengetahuan dan keterampilan minim, maka orang kesulitan mencari nafkah.
Karena tidak mempunyai penghasilan memadai, orang menjadi miskin; dan seperti pengajaran
"Kefakiran dekat dengan kekufuran", maka demi "sesuap nasi", orang bisa khilaf melakukan perbuatan tercela; dan mengurangi perasaan aman anggota masyarakat lainnya; demikian seterusnya, "kemiskinan melahirkan kemiskinan", dan "dosa melahirkan dosa".

Pada akhirnya, banyak dari kita mengidap perasaan tidak berdaya; dan secara kumulatif, kumpulan manusia menjadi masyarakat, menjadi negara; kita merasa kehilangan "SELF-DIGNITY", kebanggaan diri.
Itulah sebabnya kita sebagai bangsa dengan populasi terbesar keempat didunia; yang sesungguhnya
"gemah ripah loh jinawi"; bisa tidak punya kewibawaan terhadap negara lain, sehingga kita seperti "kerupuk tersiram air", melempem


Sebagai warga negara, dan sebagai pelatih dan konsultan bisnis yang telah berinterrelasi dengan entah berapa banyak orang sejak 16 tahun lalu; saya menyadari bahwa, persoalan kita bukanlah di hal kasat mata; bukan pada kesalahan atau kekurangan teknis.

Melainkan pada 2 faktor fundamental:
Pertama:

  • FAKTOR MINDSET pada manusianya


Kedua:

  • FAKTOR SYSTEM pada organisasinya


Kendala yang ada dan terjadi berulang pada kedua faktor MINDSET maupun SYSTEM itu adalah karena TIDAK MERITOKRATIS.
Meritokratis berasal dari akar kata "merit", manfaat, kontribusi, hasil.
Jadi, MINDSET & SYSTEM yang tidak Meritokratis artinya, bahwa kita tidak memfokuskan pikiran, emosi, kepercayaan dan tindakan kita kepada kebergunaan, dan hasil.
Karena itu, kita lebih sering repot, sibuk, berdebat, bertikai, bermusuhan, bahkan bunuh-bunuhan, untuk hal yang tidak esensial; bahkan tidak relevan terhadap penciptaan kesejahteraan kemakmuran kedamaian kebahagiaan!

Kalau saja Mindset & System kita Meritokratis, maka kita tidak terlalu perduli (apalagi mempertengkarkan) urusan yang tidak kondusif terhadap pencapaian tujuan pribadi dan bangsa, yakni kemakmuran dan kebesaran bersama.


Coba renungkan, apakah yang saya katakan ini realita ataukah pepesan kosong:

Tentang MINDSET banyak orang kita, apakah mereka pro terhadap kebergunaan, prestasi dan kemakmuran; serta berani berjuang "all-out" mati-matian untuk mewujudkannya secara barokah?
Atau sebaliknya, banyak orang kita yang lebih gemar memperdebatkan teori tentang "kebenaran", serta hal-hal non-ekonomi lainnya?
Bahkan sebagai negara dan pemerintahan, kita ini lebih repot membahas isu tentang HAM (hak azasi manusia) dan Demokrasi
(yang sering diplesetkan menjadi "democrazy"), ketimbang upaya menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan rakyat!
Kita sibuk membuat "aturan main" tentang cara memberantas korupsi; sambil secara bersamaan kita membiarkan perkara korupsi baru terjadi lagi.
Kita sibuk berdebat dan berdemo tentang penegakan hukum; padahal faktanya "jauh panggang dari api"
Belum lagi jika ditambah dengan urusan sosial budaya dan agama..
Kita nyaris tidak punya cukup waktu dan energi untuk melakukan hal yang penting: MENCIPTAKAN UANG, KEMAKMURAN RAKYAT

Karena MINDSET nya seperti itu, maka wajar jika SYSTEM nya juga seperti itu.
Kita sudah punya berbagai macam undang-undang, peraturan, institusi, departemen, anggaran, sumber daya, dsb; yang semuanya lebih dari komplit, lebih dari cukup untuk mewujudkan apa saja yang diperlukan untuk menjadikan rakyat kita makmur, dan bangsa kita besar
Namun apa faktanya?
Kita ibarat mengidap
"HAMSTER SYNDROME", yakni binatang Hamster yang terus berlari sekencang kencangnya sampai kelelahan diroda putaran.
Kita merasa (menganggap) telah bekerja keras, atau telah melakukan sesuatu, namun tidak memperoleh hasil bagus.
Kita kecewa dan menyalahkan pihak lain.
Padahal, bukankah kita sendiri yang telah salah bertindak? Melakukan hal yang tidak berguna?!

SYSTEM yang tidak Meritoratis juga bisa membuat pemimpin tidak efektif.
Jika tidak ada sistem Rewards & Punishment yang jelas tegas adil, maka kinerja baik atau buruk sama-sama tidak ada untung atau ruginya bagi pelakunya; jujur atau curang tidak ada yang memperdulikan; maka sistem yang buruk akan menyeret orang baik menjadi buruk; apalagi orang yang dasarnya sudah buruk, parah!

Ada Pemimpin yang berulang kali mengeluh, mengatakan bahwa instruksinya (yang disampaikan berulangkali) kepada jajaran "anak buahnya", tidak dijalankan dan atau tidak menghasilkan sesuai harapan; dan ia merasa tidak berdaya?

Itu adalah hal yang "absurd", bahkan mengherankan.
Saya saja sebagai
"pemimpin kecil, kelas rebon"; kalau saya mengatakan "CAT PUTIH DALAM WAKTU 35 MENIT" kepada anak buah saya, maka mereka tidak punya pilihan selain melakukan dan menghasilkan 100% TEPAT seperti yang saya perintahkan.
Sebab, jika mereka menolak, maka SYSTEM Manajemen Meritokratis yang mereka sudah pahami, akan menjadi "hakim" mereka, dengan memberikan 2 opsi:

  • Pertama: Mereka akan "di BINA" jika masalahnya ketidakmampuan teknis; agar mereka mampu berhasil.
  • Kedua: Mereka akan "di BINASAKAN" (dipecat) jika masalahnya adalah ketidakmauan; sekalipun telah "dibina" 2 kali sebelumnya.



JOHANES LIM MOTIVATOR BISNIS

Konsep dan program pensejahteraan masyarakat ini sudah saya buat bukunya yang diterbitkan oleh Gramedia dengan judul "JUST DUIT!", pada tahun 2.000.
Gagasan yang saya harapkan dilakukan oleh Pemerintah dan atau Pengusaha besar adalah pembuatan
"COMMUNITY SUPPORT CENTER" (CSC) dan "ENTREPRENEUR SUPPORT CENTER" (ESC), yang sangat efektif dan tepat manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat.
Program itu saya adaptasi dari program Pemerintah New Zealand untuk penduduknya, ketika saya bertugas disana selama hampir 3 tahun; yang detailnya "step-by-step" bisa saya jabarkan, jika ada yang ingin mewujudkannya.

Kalau saja Pemimpin Partai dan atau Kandidat Presiden 2014 mau menerapkan CSC dan ESC disetiap cabang dan rantingnya,
MULAI DARI SEKARANG, maka sudah bisa dipastikan ia akan menjadi Capres yang diidolakan, dan dikagumi.
Rakyat sudah merasakan manfaatnya JAUH HARI sebelum masa kampanye, sehingga pada waktunya, Capres tsb tidak perlu "jual kecap" ataupun orasi "pepesan kosong"..
melainkan tinggal mengatakan
"SAYA TELAH MEMBERI BUKTI, BUKAN JANJI"
dan masyarakat akan setuju bahwa Capres itu adalah "SUDAH BERKARYA", dan bukan seperti kebanyakan orang yang baru "akan berkarya"
(yang mudah-mudahan tidak lupa melaksanakannya kelak)
sehingga sangat mudah untuk memilihnya menjadi Presiden






Catatan Pemilu 2014: Seandainya Dahlan Iskan Presiden RI 2014-2019
http://marhaenisme.com/?p=906

Dunia maya khususnya milis, sepekan lalu diramaikan oleh diskusi pro-kontra Dahlan Iskan sebagai calon presiden (Capres) mendatang. Pemilu 2014 memang masih lama, tapi pemanasan menjelang Pemilu tampaknya sudah dilakukan oleh sejumlah partai politik (parpol).
Diskusi itu berawal dari tulisan media online www.lensaindonesia.com berjudul *Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014” dan “Jakob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan.” Saya coba telusuri, media tersebut berkantor di Graha Pena, yang menjadi markas Jawa Pos, tempat Dahlan Iskan memulai karir yang meroket.
Sebenarnya, tulisan-tulisan opini mengenai Dahlan Iskan sebelum ulasan Lensa Indonesia, sudah banyak diposting di media sosial www.kompasiana.com. Malah, jumlahnya mencapai ribuan judul. Jika kita menulis kata kunci ‘Dahlan Iskan’ di mesin pencari Kompasiana, maka akan muncul 100 halaman, sehingga total mencapai 1.000 judul atau ulasan tentang Dahlan Iskan. Tapi sepertinya, server Kompasiana tak mampu menampung tulisan tentang Dahlan Iskan, karena daya tampungnya hanya 100 halaman setiap kata kunci.
Ada beberapa tulisan yang menarik perhatian saya tentang sepak terjang Dahlan Iskan di Kompasiana, yakni:
1. Dahlan Iskan for President
2. Faisal Basri-Dahlan Iskan for 2014
3. Obrolan Warteg: Sri Mulyani, Fadel Muhammad, dan Dahlan Iskan
4. Kelas Dahlan Iskan Mestinya ‘Perdana Menteri’
5. Mungkinkah Dahlan Iskan Jadi Presiden RI?
Dari tulisan-tulisan tersebut, saya bisa mengambil asumsi, bahwa figur Dahlan Iskan layak diperhitungkan untuk Capres 2014. Dahlan Iskan bukan anggota Kompasianer, berbeda dengan Jusuf Kalla yang mati-matian menjalankan pencitraan di Kompasiana menjelang Pemilu 2009. Meski tak menulis di dunia maya, khususnya sosial media, Dahlan Iskan menjadi sorotan publik sebagai ulasan yang cukup menarik.
Tulisan berjudul “Jakob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan” misalnya, sempat menjadi debat kusir diskusi, karena sebenarnya tak ada pernyataan dukungan Jakob Oetama ke Dahlan Iskan sebagai Capres 2014. Persoalannya, tulisan itu dikaitkan dengan judul “Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014”, sehingga terkesan bahwa Jakob Oetama turut serta dalam kampanye 2014. Padahal, kedua tulisan ini lebih banyak bumbu opini daripada fakta dan data.
Di tulisan ini, saya tak membahas pro-kontra masyarakat penikmat dunia maya, tentang figur Dahlan Iskan. Di sini, saya mencoba membedah peluang Dahlan Iskan sebagai Capres 2014 mendatang.
Pertama, seorang Dahlan Iskan berasal dari suku Jawa. Pemimpin negeri ini, biasanya tak lepas dari suku Jawa. Apalagi, faktor masyarakat suku Jawa sudah lama menetap di berbagai daerah luar Jawa, telah berhasil menciptakan image, bahwa gaya pemimpin yang terbaik adalah orang Jawa. Kualitas pemimpin yang berasal dari suku Jawa, lebih diterima daripada pemimpin yang berasal dari suku Jawa.
Kedua, Dahlan Iskan memiliki modal yang cukup jika benar-benar memproklamasikan diri sebagai Capres 2014. Sebagai pengusaha media di grup Jawa Pos yang menggurita di seantero negeri, Dahlan memiliki kekayaan yang tak sedikit. Apalagi, ia berani mendirikan tivi lokal di Surabaya dan Batam. Sumber kekayaan terbesar Dahlan adalah di bidang tambang dan energi, khususnya menjelang ia menjabat sebagai Direktur Utama PT PLN. Maaf, saya tidak bersedia menduga-duga jumlah kekayaan Dahlan, karena kurang etis. Secara awam, jumlah kekayaan pejabat dapat terlihat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Nilai yang dilaporkan itu adalah puncak gunung es.
Ketiga, Dahlan pernah jadi wartawan. Menurut saya, inilah faktor yang sangat menentukan pencitraan menjelang arena pertandingan Pemilu 2014. Ketika Capres lain harus rela mengeluarkan dana untuk iklan kampanye, bisa jadi seorang Dahlan cukup mengirimkan kalimat pesan singkat SMS dan langsung menjadi berita headline surat kabar atau running text berita di televisi. Seorang wartawan tentulah cerdas membuat judul-judul bombastis, apalagi dengan dukungan ratusan wartawan se-Tanah Air.
Keempat, wartawan bangga memiliki teman seprofesi menjadi presiden. Mungkin sama seperti nomor tiga di atas, tapi sebagai wartawan tentunya terpengaruh oleh faktor psikologis ini. Satu catatan kecil tentang ikatan psikologis ini, saya jadi teringat alm. Eric Samola, sang Pendiri Jawa Pos. Dahlan merupakan wartawan Tempo yang dipilih Eric Samola sebagai komandan Jawa Pos. Dalam prosesnya, Dahlan memimpin jaringan JPNN di 200 kota Indonesia dan menguasai 60 persen pangsa pasar pembaca surat kabar.
Kelima, Dahlan masih memiliki ikatan dengan Jawa Pos atau JPNN. Pasti, setiap kegiatannya diliput dan dipublikasi oleh seluruh media grup Jawa Pos. (Mohon dikoreksi, jika asumsi saya ini keliru). Buktinya, gebrakan-gebrakannya di PT PLN selalu menjadi buah bibir di masyarakat karena pemberitaan di media. ”Kerja.. Kerja.. Kerja!!!” begitu kata Dahlan.
Keenam, Dahlan tak memiliki cacat hukum yang bisa menjadi black campaign dalam kampanye 2014. Berbeda dengan Capres lainnya yang sudah ‘bernyanyi’ selama ini, seperti Sri Mulyani, Boediono dan Prabowo Subianto. Setidaknya, Dahlan adalah seorang pengusaha dan bukan dari parpol. Konon, dulu pernah ada ‘persoalan’ di internal redaksi Jawa Pos, tapi sepertinya tak berpengaruh signifikan.
Ketujuh, Dahlan menyukai gaya hidup (life style), seperti sepatu, batik, berkendara tanpa sopir serta berolah raga. Ini bisa berpengaruh pada penguatan pemilih di Pemilu 2014 mendatang, khususnya di kelompok masyarakat menengah ke atas.
Ketujuh peluang di atas, bisa menjadikan Dahlan sebagai Capres 2014. Itu jika yang bersangkutan berminat. Minimal, sangat layak sebagai calon wakil presiden. Jika tidak, mungkin akan dilakukannya sebagai Capres 2019. Dalam sejarah negeri ini, tak ada orang yang menolak menjadi capres atau cawapres jika peluang itu ada. (J.Kumaat/Kompasiana)

DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT 2014

PERTANYAANNYA: MENGAPA DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT RI 2014?

Saya Johanes Lim, sudah berinterrelasi dengan entah barapa banyak orang diberbagai strata selama 51 tahun hidup; dan 16 tahun menjadi pelatih dan konsultan diberbagai skala perusahaan
dan selama ini belum pernah merasa "kesengsem" dengan sosok manusia -berapapun kekayaannnya dan atau bagaimanapun hebatnya dia- selain almarhum Gus Dur
Baru pada figur Bapak Dahlan Iskan saya menemukan pribadi yang sangat luar biasa, yang tidak lazim dimiliki oleh "orang besar" Indonesia.
Sehingga saking berharapnya beliau bisa menjadi "Satrio Piningit" bagi bangsa Indonesia, sampai saya tidak malu melanggar profesionalisme sebagai CPC, dengan tendensius mencanangkan DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT RI 2014.
Dan saya berani menanggung resikonya, jika karena itu omzet bisnis saya terganggu.

Sekalipun masih terdengar "mustahil", saya sudah sedang dan akan terus mempromosikan Dahlan Iskan sebagai Capres 2014, melalui iklan keratusan website, melalui facebook dan twitter, melalui seminar, dsb
sehingga bagi siapa saja yang mengetikkan "DAHLAN ISKAN FOR PRESIDENT 2014" di search engine apapun, pasti akan menjumpai website kami dan atau links kewebsite kami.
Mengapa Dahlan Iskan?

Pertama,
Karena pak Dis adalah pribadi yang unik, langka, dan luarbiasa (extra-ordinary).
Kalau kita mempelajari Abraham Maslow's Hierarchy Of Needs, orang akan segera mengatakan bahwa pak Dis telah berada pada puncak piramid yang dinamakan "Self-Actualization".
Beliau sudah tidak lagi mengejar kesuksesan atau kekayaan; bahkan tidak lagi mengejar pujian atau penghormatan.
Bahkan sesungguhnya pak Dis tidak lagi mengejar jabatan; melainkan dikejar jabatan!
Orang bisa melihat bahwa pak Dis sudah memiliki nyaris semua yang dikejar banyak orang: Uang, Kesuksesan Bisnis, Reputasi.
Beliau bukan hanya pandai bicara, melainkan telah membuktikan kehebatannya berulangkali, dengan cara berhasil membesarkan kerajaan bisnisnya sendiri; bahkan bisa membuat kinerja PLN yang "hobby byar pet" menjadi baik dalam waktu singkat.
Prestasi yang Mencengangkan! Monumental! Phenomenal!

Kedua,
Karena Bapak Dahlan Iskan berambisi dan beritikad tulus, serta berkapasitas, untuk membesarkan dan memakmurkan serta membanggakan bangsa Indonesia; melalui pembenahan BUMN agar menjadi korporasi korporasi berkelas dunia, yang menguntungkan, dan berkontribusi besar terhadap penerimaan penghasilan negara; yang pada akhirnya bisa dipergunakan untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, dan pembangunan nasional

Ketiga,
Karena pak Dis masuk bursa CALON PRESIDEN RI 2014

sebagaimana yang bisa dilihat di

WWW.PRESIDEN-RI.COM

WWW.BUSINESSTRAINERSGROUP.COM

WWW.SANGMOTIVATOR.COM

WWW.B2BMINISTRY.NET

WWW.BUMNBREAKTHROUGH.COM


Saya menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia membuka hati dan pikiran, serta berdoa kepada Allah SWT atau kepada Tuhan yang dipercayainya
agar membuka jalan, memberi kesempatan kepada bangsa dan negara kita
memiliki Presiden yang AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR
seperti Bapak Dahlan Iskan
agar negara kita menjadi hebat dahsyat luar biasa
agar masyarakat kita makmur aman sentosa, dari Sabang sampai Merauke
dari Timor sampai ke Talaud
sehingga Indonesia bisa kembali kefitrahnya menjadi bangsa yang BESAR HEBAT JAYA

Saya memberanikan diri berdoa,
BISMILLAH HIROHMAN NIRROHIM,
"KUN FAYAKUUN"

JOHANES LIM MOTIVATOR BISNIS


Website ini akan saya update secara berkala.
Saya juga mengharapkan komentar dan masukan dari saudara lainnya yang mempunyai beban dan visi kebangsaan yang sama.
Mohon maaf, karena saya harus menjaga tatakrama dan kesantunan, maka website ini tidak saya buat fasilitas "direct posting", melainkan perlu mengisi form ini; agar sebelum di upload, saya bisa memastikan bahwa komentar bersifat konstruktif dan tidak melanggar undang-undang kebebasan menyatakan pendapat; atau yang bersifat fitnah




Back to content | Back to main menu